Kamis, 30 Oktober 2014

Fenomena Anak Jalanan

Di kota-kota besar anak jalanan bukanlah subjek
asing lagi kita saksikan. Anak-anak jalanan
berbaur dengan para pengamen, pengemis dan
unsur-unsur jalan raya lainnya. Anak-anak jalanan
menjadi satu fenomena yang menyedihkan apabila
para oknumnya melakukan beberapa kali tindakan
yang memunculkan keresahan sosial di tengah
masyarakat.
Anak-anak jalanan memilih lingkungan hidup di
jalanan terkadang bukan hanya faktor kondisi
kesulitan ekonomi, namun karena mereka juga
menikmati kondisi lingkungan di jalanan. Anak-
anak jalanan tak selalu tidak punya tempat tinggal,
anak-anak yang merasa stres dengan kondisi
keluarga dan lingkungan rumahnya terkadang
merasa lebih nyaman memilih jalanan sebagai
lingkungan hidupnya. Di lingkungan hidupnya, anak
jalanan melakukan banyak aktivitas seperti
mengamen, mengemis, dan lainnya.
Apa yang dicari oleh anak jalanan dengan
lingkungan kehidupan di jalan-jalan ? ada beberapa
hal yang membuat para anak jalanan betah dengan
lingkungan di jalanan.
Keterdesakan ekonomi yang mengharuskan
seseorang yang berada di bawah usia kerja
harus berjuang di jalan raya mencari uang
untuk menghidupi dirinya bahkan orang
tuanya. Anak-anak jalanan jenis ini akan
merasa betah dijalan raya apabila mereka
selalu menemukan rezeki yang banyak dari
para pengguna jalan raya. Semakin tinggi
intensitas kedermawanan pengguna jalan
raya, maka anak jalanan jenis ini akan
semakin betah berada di jalanan untuk
mengais rezeki.
Hal yang kedua adalah soal kebebasan hidup.
Banyak anak-anak yang merasa kebebasan
dirinya dikekang di keluarga maka mereka
akan melarikan diri ke jalanan, berkumpul
bersama rekan-rekannya yang lain yang
memiliki keinginan dan visi hidup yang sama.
Hidup di alam jalanan dirasa lebih bebas,
interaksi terbuka dengan rekan dan teman
akan lebih memberikan arti hidup bagi
orang-orang dengan pemikiran seperti ini.
Yang menjadi persoalan adalah saat interaksi para
anak jalanan ini mengalami gesekan, terbentur
berbagai permasalahan kepentingan hidup seperti
soal pangan, emosi dan sebagainya. Yang akan
muncul adalah tindakan kejahatan sosial seperti
tawuran, pencopetan yang meresahkan, jambret,
dan hal-hal negatif lainnya yang mengganggu
ketenangan kehidupan sosial.
Bagaimana cara mengatasi dampak negatif anak
jalanan ?
Mengatasi persoalan anak jalanan adalah tanggung
jawab masyarakat secara umum. Pemerintah
dalam hal ini pihak Departemen Sosial perlu
membuat kebijakan yang tegas terhadap masalah
anak jalanan. Untuk saat ini aturan yang diberikan
oleh pemerintah adalah melarang anak-anak
jalanan untuk beroperasi di jalan-jalan protokol.
Hal ini tentu saja tak cukup, mengingat anak-anak
jalanan tak hanya di kota-kota besar di Pulau
Jawa. Anak-anak jalanan juga masih banyak
ditemui.
Berikut beberapa langkah alternatif yang dapat
dilakukan untuk mengatasi dampak-dampak
negatif atas keberadaan anak jalanan.
Melakukan upaya pembinaan anak jalanan
baik oleh pemerintah maupun pihak swasta.
Pemerintah perlu melakukan upaya
pembinaan terhadap anak jalanan. Anak
jalanan jangan hanya dimanfaatkan oleh
beberapa kelompok untuk kepentingan politik,
lebih dari itu anak jalanan merupakan
permasalahan sosial yang menjadi tanggung
jawab bersama untuk diselesaikan. Jika
pemerintah kerepotan, pemerintah bisa
menawarkan kepada pihak swasta untuk
melakukan pemberdayaan terhadap anak-
anak jalanan melalui pembentukan yayasan-
yayasan pengelola anak jalanan.
Mendidik jiwa anak-anak jalanan menjadi jiwa
pewirausaha. Salah satu pelatihan dan
pembinaan yang cukup baik dilakukan untuk
anak-anak jalanan adalah dengan cara
berbisnis kecil-kecilan. Memanfaatkan waktu
dengan berusaha membangun usaha bisnis
mini bagi para anak jalanan akan membantu
anak jalanan meninggalkan hal-hal negatif di
jalanan dan juga akan membantu
perekonomian anak-anak jalanan.

Sumber : www.google.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar